https://828bet.club/

5 Alasan Remaja Perempuan di Kamerun Terpaksa Menyetrika Payudaranya

Banyak perubahan yang kita alami selama masa puber. Dari emosi yang mulai sering naik turun, sampai bentuk fisik kita yang sedikit demi sedikit berubah. Terutama bagi perempuan yang pada masa itu mulai mengalami pertumbuhan payudara. Selain rasa sakit yang kadang-kadang muncul, fase itu juga sering diwarnai perasaan risi, malu, dan belum terbiasa karena bentuk tubuh kita yang berubah. Itu dilema wajar yang mungkin dialami hampir semua perempuan di dunia.

Namun realita menyedihkan yang jauh di luar kewajaran ternyata dialami remaja perempuan di Kamerun. Seperempat atau 25% dari cewek remaja di sana harus bertahan menghadapi rasa sakit luar biasa karena payudaranya yang baru tumbuh tiap harinya terus disetrika oleh ibunya sendiri. Tindakan yang merupakan kejahatan pidana di tempat lain, nyatanya merupakan tradisi turun menurun di negara Afrika Tengah tersebut. Apa ya filosofi atau tujuan dari tradisi tersebut? Kenapa juga tradisi yang begitu menyakitkan itu masih terus dilestarikan sampai saat ini? Yuk baca lebih dalam bersama 828bet.

1. Tradisi menyetrika payudara anak perempuan yang sedang tumbuh sudah jadi rutinitas rutin setiap hari yang dilakukan oleh ibu di Kamerun
Kebiasaan salah seorang remaja perempuan di Kamerun ini memang luar biasa. Sebelum berangkat sekolah biasanya anak-anak sarapan dahulu, tapi keseharian Terisia Techu berbeda. Seperti yang diceritakan oleh dirinya ke CNN, sejak usianya sembilan tahun, ia harus mengalami tradisi yang menyakitkan. Ibunya akan menyetrika payudaranya menggunakan kayu yang terlebih dahulu dipanaskan. Dan tradisi ini dialami oleh satu dari empat anak perempuan di Kamerun.

2. Para ibu ini menyetrika payudara anak perempuannya dengan batu atau kayu yang dipanaskan. Mereka ingin mengurangi pertumbuhan payudara anaknya
Nggak hanya menggunakan batang kayu seperti yang dilakukan oleh ibu dari Terisia Techu, tetapi ada juga yang menggunakan batu. Baik batu ataupun kayu dipanaskan terlebih dahulu sebelum dioleskan dan ditekan ke payudara anak perempuannya yang sedang bertumbuh. Dikutip dari National Geographic, batu atau kayu panas akan melelehkan lemak di payudara sehingga akan jadi lebih kecil. Para ibu nggak ingin anak perempuannya terlihat punya payudara.

3. Tujuan utamanya adalah supaya anaknya jadi tidak menarik secara seksual. Biar tidak jadi korban para predator di sana
Tapi, selain pakai batu dan kayu, ada juga lho yang pakai cara lain yaitu memasangkan ikat pinggang ketat ke dada anak perempuannya. Saking ketatnya, dada anak perempuannya akan kelihatan datar. Malah itu yang jadi tujuan para ibu di Kamerun. Pokoknya, anaknya harus nggak kelihatan punya payudara sehingga nggak menarik secara seksual buat lawan jenisnya.

4. Di Kamerun, kekerasan seksual memang marak terjadi. Cara ini dianggap ampuh menyamarkan kalau anak perempuannya sudah masuk usia matang
Tindakan itu nggak lepas dari kekhawatiran para ibu terhadap anak perempuannya. Di usia anak perempuan yang sudah mencapai 8 hingga 12 tahun, mereka rentan terhadap lelaki di sekitarnya. Usia seperti itu bisa dibilang usia dimana anak perempuan mulai matang. Hal itu yang ingin disamarkan para ibu. Apalagi, di Kamerun banyak kasus kekerasan seksual yang dialami anak perempuan.

5. Maksudnya sih baik, para ibu nggak mau anak perempuannya hamil sebelum menyelesaikan sekolahnya. Tapi kan caranya menyiksa dan menyakiti anak
Di Kamerun, salah satu masalah utama adalah kehamilan di usia yang masih sangat muda. Biasanya terjadi pada anak usia sekolah. sebanyak 65% anak perempuan nggak melanjutkan sekolah lagi setelah hamil dan melahirkan anaknya. Ini yang ingin dihindari para ibu. Bagi mereka, anak perempuan harus punya kesempatan untuk sekolah dan bekerja. Tapi cara yang digunakan malah menyiksa anaknya. Ada lho yang terlalu panas ketika disetrika sampai-sampai payudaranya terluka dan meninggalkan bekas. Duh~

Tradisi yang mengerikan ini jelas harus dihentikan. Meskipun para ibu di Kamerun mungkin menyetrika payudara hanya semata demi melindungi anak-anak perempuannya, tindakan itu jelas termasuk kejahatan kemanusiaan terhadap perempuan. Semua lapisan masyarakat di negara tersebut memerlukan revolusi pendidikan seks supaya perempuan muda tidak lagi dipandang sebagai target seksual hanya karena punya payudara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *